Sunday, 22 June 2014

Lincoln yang Suka Belajar

Abraham Lincoln adalah seorang presiden yang sangat dihormati dan disayangi oleh rakyat Amerika Serikat. Ia memiliki semangat belajar sungguh-sungguh rajin dan tidak mengenal lelah yang merupakan teladan yang diikuti oleh banyak orang Amerika.
Saat remaja, Lincoln tidak menerima banyak pendidikan formal, tetapi ua senang belajar dan tidak malu bertanya. Karena keinginannya membaca buku sangat besar, ia pernah berkeliling mendatangi seluruh perpustakaan yang berada didekat kota, untuk meminjam dan membacanya.
Lincoln juga senang mendengarkan pidato orang lain. Ia pernah berjalan kaki sejauh 30 - 40 km untuk mendengarkan pidato orang lain dan bergegas pulang pada tengah malam. Dalam perjalanan pulang, ia menyusun kembali intisari pidato tadi, kemudian berlatih sendiri.
Untuk memperdalam teknik dan daya tarik pidatonya, Lincoln banyaj mengikuti kuliah dan seminar, berusaha mengambil kesempatan untuk memberikan pidato. Dalam kesempatan - Kesempatan dan latihan inilah, Lincoln akhirnya dapat menjadi ahli pidato yang terkenal.
Pesan : ♧
Thomas Alfa Edison, seorang penemu terkenal, pernah berkata "Keberhasilan saya dikarenakan 1% bakat dan 99% ketekunan" . Semua orang yang berhasil didunia, sangat tekun dan rajin belajar dan tidak pernah mencari alasan untuk diri sendiri.

Saturday, 18 January 2014

(Kantong Semar) Nepenthes sp. Tanaman Langka dari Riau

Pendahuluan 
  Kantong semar atau dalam bahasa latinnya Nepenthes sp. Pertama kali dikenalkan oleh J.P Breyne pada tahun 1689. Di Indonesia, sebutan untuk tumbuhan ini berbeda antara daerah satu dengan dengan daerah yang lainnya. Masyarakat di Riau mengenal tanaman ini dengan sebutan Periuk Monyet, di Jambi disebut dengan Kantung Beruk, di Bangka disebut Ketakung, sedangkan Sorok Raja Mantri disematkan oleh masyarakat di Jawa Barat pada tanaman ini. Sementara di Kalimantan setiap suku memulikia istilah sendiri untuk menyebut Nepenthes sp. Suku Dayak Katingan menyebutnya sebagai Ketupat Napu, Suku Dayak Bakumpai dengan Telep Ujung, sedangkan Suku Dayak Tunjung menyebutnya dengan Selo Bengongong yang artinya sarang serangga (Mansur, 2006).
     Sampai saat ini tercatat terdapat 103 jenis kantong semar yang sudah dipublikasikan (Firstantinovi dan Karjono, 2006). Tumbuhan ini diklasifikasikan sebagai tumbuhan karnivora karena memangsa serangga. Kemampuannya itu disebabkan oleh adanya organ berbentuk kantong yang menjulur dari ujung daunnya. Organ itu disebut pitcher atau kantung.
   Kemampuannya yang unik dan asalya yang dari negara tropis itu menjadikan kantong semar sebagai tanaman hias pilihan yang eksotis di Jepang, Eropa, Amerika dan Australia. Sayangnya di negaranya sendiri justru tak banyak yang mengenal dan memanfaatkannya (Wirtanto, 2006).

Penyebaran
       Kantong semar tumbuh fan tersebar mulai dari Australia bagian utara, Asia tenggara, hingga Cina bagian selatan. Indonesia memiliki Pulau Kalimantan dan Sumatera sebagai surga habitat tanaman ini. Dari 64 jenis yang hidup di Indonesia, 32 jenis diketahui terdapat di Borneo (Kalimantan, Serawak, Sabah, dan Brunei) sebagai pusat penyebaran Kantong Semar.
       Pulau Sumatera menempati urutan kedua dengan 29 jenis yang sudah berhasil diidentifikasi, setelah Kalimantan. Keragaman jenis Kantong Semar di Pulau lainnya belum diketahui secara pasti. Namun hasil penelusuran spesimen herbarium di Herbarium Bogoriense, Bogor, ditemukan bahea di Sulawesi minimum 10 jenis, Papua sembilan jenis, Maluku empat jenis, dan Jawa dua jenis (Mansur, 2006).

Keunikan
     Nepenthes tidak memerlukan nutrien tambahan dari pupuk walaupun kebanyakan tumbuh dirawa-rawa atau dataran rendah yang kandungan nitrogennya sangat sedikit. Hal ini karena nepenthes adalah tanaman yang di dalam kantongnya mengandung nektar yang terdapat zat-zat sederhana seperti nitrogen, fosfor, kalium dan garam-garam mineral yang diperoleh dari penguraian protein serangga yang terjebak dalam Kantong Semar oleh enzim proteolase.
      Keunikan lain, ada pada cara ia mendapatkan makanan. Bukan dengan akar yang menyerwp nutrisi dari tanah, tanaman ini menyerap nutrisi dari serangga yang terjebak didalam kantingnya. Serangga dihancurkan oleh semacam senyawa menyerupai asam lambung lantas dihisap sari-sarinya. Itulah sebabnya ia mampu bertahan di daerah yang tergolong tandus.

Manfaat
     Nepenthes sp. banyak dimanfaatkan untuk tanaman hias, untuk mencegah anak-anak kecil ngompol dengan cara menuangkan cairannya diatas kepala anak tersebut dan sisanya diminum, untuk membantu memperlancar persalinan ibu saat melahirkan, sebagai obat mata, sebagai obat batuk, dan mengobati kulit yang terkena luka bakar. Selain itu, perasan daun atau akarnya dapat digunakan sebagai astrigen (larutan penyegar) serta rebusan akarnya sebagi obat sakit perut atau disentri dan demam.

Status Perlindungan
     Status perlindungan tanaman kantong semar termasuk tanaman yang dilindungi berdasarkan Undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Hayati dan Ekosistemnya serta Peraturan Pemerintah No. 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Hal ini sejalan dengan regulasi  Convention on International Trade in Endangered Spesies (CITES), dari 103 spesies kanting semar didunia yang sudah dipublkasikan ada 2 jenis : Nepenthes rajah, Nepenthes khasiana masuk dalam kategori appendik -1. Sisanya dalam kategori appendik -2. Itu artinya segala bentuk perdagangan sangat dibatasi.

 Sumber :
Agrovaria. Edisi September 2013. Media komunikasi PT Astra Agro Lestari
Wikipedia.com. Nepenthes-sp.html

Friday, 17 January 2014

Pohon Tengkawang (Dipterocarpaceae)

PENDAHULUAN
    Tengkawang adalah jenis Shorea yang telah lama dikenal di Indonesia. Jenis ini termasuk famili Dipeterocarpacea. Daerah penyebarannya adalah Asia Tenggara yaitu : Thailand, Malaysia, Indonesia (Kalimantan dan Sumatera), Serawak, Sabah dan Phillipina. Tumbuh baik pada daerah beriklim tropika basah dengan ketinggian 5 - 1.000 m dpl, serta lokasi yang bertanah liat, berpasir, maupun berbatu yang digenangi atu tidak digenangi air. Biji tengkawang dapat digunakan sebagai bahan baku industri demikian pula kayunya yang dikenal dengan nama kayu meranti. Di Indonesia terdapat 13 jenis pohon penghasil tengkawang, di mana 10 jenis di antaranya terdapat di Kalimantan dan 3 jenis lainnya di Sumatera. Umumnya berbunga pada bulan September - Oktober dan buah masak pada bulan Januari - Maret, berbuah lebat setelah kemarau panjang.

JENIS DAN GAMBARAN POHON
1. Shorea amplexicaulis (Tengkawang merah telur). Pohon berukuran sedang sampai besar. Tinggi pohon 30-40 m. Tajuk bulat melebar. Daun beruikuran 11 - 21 x 5 - 8 cm. Buah bersayap 5 dengan ukuran 3,7 x 2,5 cm.

2. Shorea beccariana Martelli (Tengkawang bukit). Pohon berukuran sedang sampai besar. Tinggi pohon 40 m. Daun berukuran 11 - 20 x 5,5 - 8 cm. Buah bersayap 5 dengan ukuran 3,7 x 2,5 cm.

3. Shorea lepidota ( Meranti bunga).
Pohon berukuran besar, berbanir. Daun berukuran 6 - 14 x 36 cm, buah 16 x 11 cm.

4. Shorea macrantha (Meranti lengkong L daon).
Pohon kecil sampai sedang. Daun berukuran 6 - 17 x 2,5 - 8 cm, buah 5,5 x 2,5 cm.

5. Shorea mecistopteryx Ridl. (Tengkawang layar). 
Pohon besar, 6 - 17 x 2,5 - 8 cm, buah 5,5 x 2,5 cm.

6. Shorea palembanica Miq (Majau) . 
Pohon kecil hingga sedang, berbanir. Daun berukuran 8 - 25 x 4 - 10 cm, buah 3,5 cm.

7. Shorea pinanga Sceff. (Tengkawang layar) . 
Pohon sedang sampai besar (diameter 50 - 55 cm, tinggi 30 - 40 m), Daun berukuran 11 - 24 x 4 - 9 cm, buah 2 - 4 cm. Bentuk tajuk bulat melebar. Tidak berbanir.

8. Shorea scaberima Burck (Tengkawang kijang). 
Pohon berukuran sedang tidak berbanir. Tajuk bulat melebar. Daun berukuran 7 - 20 x 4 - 9 cm, buah 5 x 2,5 cm.

9. Shorea seminis (de Vriese) Slooten (Terindak).
Pohon sedang sampai besar, tidak berbanir. Tajuk bulat melebar. Daun berukuran 17 - 35 x 10 - 14 cm, buah 6 x 4 cm.
10. Shorea macrophylla Ashton (Tengkawang tunggul jantong).
Pohon sedang hingga besar, tinggi 20 - 40 m, berbanir. Tajuk bulat melebar. Daun berukuran 17 - 35 x 10 - 14 cm, buah 6 x 4 cm.

11. Shorea splendida / Shorea martiniana (Tengkawang rambai).
Pohon berukuran kecil sampai sedang. Tidak berbanir. Tajuk bulat. Daun berukuran 8,5 - 23 x 4,2 - 11 cm, buah 5,5 x 3 cm.

12. Shorea stepnoptera Burck (Tengkawang tungkul) .
Pohon kecil tidak berbanir. Tajuk bulat melebar. Daun berukuran 18 - 40 x 8 - 22 cm, buah 5 x 3 cm.

13. Shorea sumatrana (Slooten ex Thorel Symington) (Tengkawang besak) .
Pohon sedang sampai besar. Tinggi 30 m. Berbanir. Tajuk bulat melebar. Daun berukuran 9 - 18 x 2,5 - 8 cm, buah 1 x 1 cm.

KEGUNAAN
1. Bijinya yang mengandung lemak dapat digunakan sebagai bahan dasar untuk pembuatan coklat, margarine, malam, sabun dan bahan kosmetika.
2. Kayu umumnya termasuk meranti merah banyak dipergunakan untuk kayu pertukangan dan plywood.

PENGADAAN BIBIT
Bibit dapat diperloleh secara :
1. Vegetatif yaitu stek dan stump, stump
berukuran diameter 1,5 - 2,5 cm dan tinggi 10 - 15 cm.
2. Generatif yaitu biakan dari benih.
Buah yang masak dan abermutu baik segera disemaikan dalam kantong plastik. Setelah 3 - 4 bulan bibit dapat dipindahkan ke lapangan.
3. Anakan alam. Tinggi 20 - 30 cm.

PENANAMAN
     Jenis penghasil tengkawang merupakan jenis setengah toleran di mana pada waktu muda memerlukan peneduh. Oleh karena itu untuk penanamannya perlu terlebih dahulu dibuat tanaman peneduh seperti Albizia falcataria apabila lapangannya terbuka. Jika keadaan lapangan berupa belukar maka belukar dapat dimanfaatkan sebagai tanaman peneduh. Dalam hal ini cukup dibuat jalur-jalur untuk penanaman.
       Jarak tanam umumnya 5 x 5 m dengan lubang berukuran 40 x 40 x 40 cm. Jumlah bibit yang dibutuhkan per ha adalah 400 pohon dengan persen tumbuh rata-rata 90 %. Penanaman sebaiknya dilakukan pada musim hujan.

PEMELIHARAAN
1. Tanaman peneduh dikurangi berangsung-
angsur dan pada umur 3 -5 tahun tanaman peneduh ditiadakan sama sekali.
2. Bersihkan dari tanaman pengganggu.
3. Lakukan penjarangan pada pohon-pohon
yang tertekan.

Sumber :
Anonymous. Tengkawang. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan RI

http://indonesianforest.com/frameset.php (diakses pada 17/01/2014)

Friday, 27 December 2013

MENCEGAH SERANGAN GANODERMA PADA TANAMAN KELAPA SAWIT

Pendahuluan
   Mencegah akan lebih baik daripada mengobati. Mempersiapkan bahan tanam atau memberikan perlakuan sedini mungkin lebih baik daripada mengendalikan tanaman yang sudah terinfeksi.
   Ganoderma boninense adalah patogen penyebab penyakit busuk pangkal batang yang paling merusak dan mematikan tanaman kelapa sawit. Karena sifatnya mematikan, penyakit ini sudah menjadi salah satu hambatan utama dalam budidaya kelapa sawit, sehingga tidak cocok jika disebut "monster" bagi tanaman kelapa sawit.
   Hingga saat ini belum ada cara dan obat yang mujarab bagi penanganan penyakit busuk pangkal batang ini. Pada beberapa kebun sawit di Indonesia, penyakit ini telah menyebabkan kematian tanaman sampai 80% atau lebih dari seluruh populasi tanaman, sehingga mengakibatkan penurunan produksi per satuan luas. Pada mulanya penyakit ini hanya menyetang tanaman tua (TM), namun pada dekade ini juga diketahui menyerang tanaman muda (TBM), realitas ini cukup mengejutkan. Kejadian penyakit meningkat sejalan dengan generasi kebun. Gejala penyakit akan lebih cepat muncul dan serangannya lebih berat pada tanaman generasi kedua dan ketiga.

Gejala Serangan Ganoderma
   Hal yang menarik dari gejala penyakit Ganoderma yang sering dikenal dengan penyakit busuk pangkal batang (basal stem rot disease) yang merupakan soil borne disease. Gejala serangan yang muncul tidak hanya berupa basal stem rot disease tetapi juga bisa sebagai upper stem rot disease (busuk batang atas). Semula patogen penyakit busuk batang atas teridentifikasi adalah Fomex noxius, namun akhir-akhir ini teridentifikasi bahwa Ganoderma boninense juga sebagai penyebab pada gejala upper stem rot disease.

Penyebaran Ganoderma boninense
   Pada kebun kelapa sawit areal gambut, laju infeksi penyakit busuk pangkal batang lebih cepat, bisa mencapai 20% tiap triwulan dibandingkan dengan tanaman sawit yang ditanam di areal mineral. Perkembangan yang cepat ini diduga peranan akar dan melalui basidiospora (tubuh buah) yang disebarkan melalui angin atau serangga. Telah teridentifikasi bahwa serangga Eumorphus sp yang sering terlihat berada di permukaan basidiospora menjadi salah satu vektor penyebaran.
   Perantara basidiospora yang dilepaskan dari tubuh buah sangat besar sebagai agens penyebaran penyakit Ganoderma ini, karena jumlah basidiospora yang sangat banyak. Bisa mencapai 2O juta basidiospora yang dilepaskan dalam setiap menit dengan bantuan angin. Ukuran basidiospora sangat kecil, bobotnya sangat ringan dan kemampuan bertahan (dorman) dalam waktu yang sangat lama.

Kerugian Akibat Penyakit Ganoderma boninense
   Perhitungan kasar kerugian yang timbul akibat serangan penyakit busuk pangkal batang tergolong sangat besar, jika dihitung berdasarkan potensi kehilangan hasil 35 % maka dengan jumlah pokok terserang Ganoderma boninense sebanyak 12.721 pokok (setara dengan 93.54 ha) dengan hasil produktivitas 23 ton/ha/th maka taksasi kehilangan produksi adalah 8 ton/ha/th. Jika harga TBS adalah Rp. 1.500/kg maka perkiraan kerugian adalah Rp. 12.073.709 /ha/th.

Pencegahan dan Penanganan
   Lebih baik mencegah dari pada mengobati, sama halnya dengam penyakit pada manusia. Tindakan pencegahan akan lebih baik dari pada mengobati tanaman yang sudah sakit. Pencegahan yang utama adalah dengan menanam pada lahan yang tidak terkontaminasi oleh tanaman sebelumnya. Dengan memberi tanda pada point tanaman yang terinfeksi dan mengeradikasi sumber penyakit sebelum dilakukan replanting.
   Beberapa usaha pengobatan yang telah dilakukan seperti pemetikan dan pemusnahan tubuh buah, mengisolasi tanaman sakit, mengorek dan membakar sumber bagian terinfeksi kemudian dan membumbun dengan tanah dan injeksi batang dengan fungisida. Usaha ini sebatas untuk memperpanjang usia produktif yang terkadang dapat mempertahankan produksi dua sampai tiga tahun sebelum akhirnya mati.

http://www.pukon.co.id/

Sunday, 17 November 2013

TEKNIK BUDIDAYA LEBAH MADU (Apis indica)


MAKALAH HASIL HUTAN BUKAN KAYU
TEKNIK BUDIDAYA LEBAH MADU (Apis indica)”



OLEH :

RIO RUSANDI
1106121095

 
 


JURUSAN KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2013





BAB I
PENDAHULUAN

 

1.1.  Latar Belakang
            Lebah merupakan insekta penghasil madu yang telah lama dikenal manusia. Sejak zaman purba manusia berburu sarang lebah di goa-goa, di lubang-lubang pohon dan tempat-tempat lain untuk diambil madunya. Lebah juga menghasilkan produk yang yang sangat dibutuhkan untuk dunia kesehatan yaitu royal jelly, pollen, malam (lilin) dan sebagainya. Selanjutnya manusia mulai membudidayakan dengan memakai gelodog kayu dan pada saat ini dengan sistem stup.
            Lebah madu (Apis indica) sering kita jumpai disekitar tempat tinggal, di rumah (atap/genteng), di pohon sekitar rumah terutama pada batang pohon yang berlubang, bahkan kadang dijumpai di tiang listrik dan grong-gorong. Lebah madu (Apis indica) akan berkembang biak dan mempunyai koloni yang besar jika kondisi lingkungan tempat tinggal yang mendukung. Terutama tercukupinya kebutuhan makanan, necter, pollen dan cadangan makanan lainnya. Tidak kalah penting merupakan factor pendukung bagi habitat lebah madu adalah ada tidaknya gangguan lingkungan, utamanya hama pengganggu dan predator.
            Budidaya lebah madu akan berhasil jika lingkungan setempat sangat mendukung yaitu tersedia banyak tanaman berbunga atau penghasil nectar dan pollen serta cukup cadangan makanan lainnya. Penanganan yang serius, tekun, sabar menjaga keberhasilan juga merupakan salah satu factor pendukung keberhasilan upaya tersebut disamping tersedianya bibit atau lebah madu yang cukup disekitar lingkungan.
            Dalam pembudidayaan lebah madu yang perlu dipersiapkan yaitu: Lokasi budidaya, kandang lebah modern (stup), pakaian kerja dan peralatan Syarat yang utama yang harus yang dipenuhi dalam budidaya lebah adalah ada seekor ratu lebah dan ribuan ekor lebah pekerja serta lebah jantan. Dalam satu koloni tidak boleh lebih dari satu ratu karena antar ratu akan saling bunuh untuk memimpin koloni. Maka untuk menghindari hal tersebut dibutuhkan penanganan dan pengelolaan yang baik dan tepat dalam upaya membudidayakan madu lebah ini.

1.2. Tujuan
            Tujuan penulisan makalah tentang Teknik Budidaya Lebah Madu (Apis indica) adalah sebagai berikut :
1.      Mengetahui teknik atau cara budidaya lebah madu yang baik dan benar sehingga dapat menjadi suatu peluang usaha yang menjanjikan
2.      Mengetahui ciri dan mamfaat lebah madu (Apis indica) sebagai objek yang akan dibudidayakan.
3.      Adapun tujuan lainnya yaitu sebagai tugas kelompok wajib mata kuliah Hasil Hutan Bukan Kayu.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Pengertian Madu 
            Madu merupakan cairan kental seperti sirup bewarna cokelat kuning muda sampai cokelat merah yang dikumpulkan dalam indung madu oleh lebah  Apis mellifera. Konstituen dari madu adalah campuran dekstrosa dan fruktosa dengan jumlah yang sama dan dikenal sebagai gula  invert 50-90% dari gula yang tidak terinversi dan air. Madu biasa dipalsukan dengan gula invert buatan, sukrosa, dan glukosa cair perdagangan. Madu dapat pula dipalsukan dengan cara pemberian suatu asupan kepada lebah berupa larutan gula sukrosa yang bukan berasal dari nektar (Gunawan, 2004).

            Madu tersusun atas beberapa molekul gula seperti glukosa dan fruktosa serta sejumlah mineral seperti Magnesium, Kalium, Potasium, Sodium, Klorin, Sulfur, Besi, dan Fosfat. Madu juga mengandung  vitamin B1, B2, C, B6 dan B3 yang komposisinya berubah-ubah sesuai dengan kualitas madu bunga dan serbuk sari yang dikonsumsi lebah. Disamping  itu, didalam madu terdapat pula tembaga, yodium dan seng dalam jumlah yang kecil, juga beberapa jenis hormon. (Sarwono, 2001). 

            Madu alami juga banyak mengandung enzim, yaitu molekul protein yang sangat komplek yang dihasilkan oleh sel  hidup dan berfungsi sebagai katalisator, yakni : zat pengubah kecepatan reaksi dalam proses kimia yang terjadi di dalam tubuh setiap makhluk hidup. (Purbajaya, J.R.2007).

            Penelitian-penelitian menunjukkan bahwa lebah memilih bunga penghasil madu, pertama dari warna dan kedua dari bau bunga. Madu dibuat oleh lebah dari nektar bunga. Lebah mengisapnya dari bunga dan membawanya ke sarangnya. Setiap lebah pekerja menumpuk nektar yang dikumpulkannya dalam suatu kantong khusus didalam tubuh yang disebut perut madu. Setelah lebah mendepositkan nektar dalam sarang, dibiarkan sebagian besar airnya  menguap sehingga cairan semakin kental (nektar dapat mengandung sekitar 70% air sewaktu dipungut, lebah pekerja mengipasnya dengan sayap sehingga dapat menurunkan kadar  air hingga 17%). (Sihombing, 1997).

2.2. Penggolongan Madu 
            Madu berdasarkan asal nektarnya dapat digolongkan menjadi tiga bagian yaitu :
1.      Madu Flora adalah madu yang dihasilkan dari nektar bunga. Yang berasal dari satu jenis bunga disebut madu monoflora, yang berasal dari aneka ragam bunga disebut madu poliflora. Madu polyfloral dihasilkan dari beberapa jenis tanaman dari nektar bunga.
2.      Madu Ekstraflora adalah madu yang dihasilkan dari nektar diluar bunga seperti daun, cabang atau batang tanaman.
3.      Madu Embun adalah madu yang dihasilkan dai cairan hasil suksesi serangga yang meletakkan gulanya pada tanaman, kemudian dikumpulkan oleh lebah madu dan disimpan dalam sarang madu.

Sedangkan madu berdasarkan proses pengambilannya menurut Sarwono  (2001) dapat digolongkan menjadi dua bahagian yaitu :
1.      Madu Ekstraksi (Extracted Honey) : Diperoleh dari sarang yang tidak rusak dengan cara memusingkan atau memutarnya memakai alat ekstarktor.
2.      Madu Paksa (Strained Honey) : Diperoleh dengan merusak sarang lebah  lewat pengepresan, penekanan atau lewat cara lainnya. 

2.3.   Kualitas Madu 
            Kualitas madu ditentukan oleh beberapa hal diantaranya waktu pemanenan madu, kadar air, warna madu, rasa dan aroma madu. Waktu pemanenan madu harus dilakukan pada saat yang tepat, yaitu  ketika madu telah matang dan sel-sel madu mulai ditutup oleh lebah. Selain itu,  kadar air yang terkandung dalam madu juga sangat berpengaruh terhadap kualitas  madu. Madu yang baik adalah madu yang mengandung kadar air sekitar 17-21 persen (Sihombing, 1997). 

            Warna merupakan salah satu kriteria dari mutu madu. Biasanya warna madu cenderung akan mengikuti tanaman penghasil nektarnya, misalnya madu yang berasal
dari tanaman lobak akan berwarna putih seperti air, madu yang berasal dari tanaman akasia dan apel akan berwarna kuning  terang, sedangkan madu yang berasal dari tanaman lime akan berwarna hijau terang. Selain itu, untuk madu yang telah disimpan dalam jangka waktu yang relatif lama maka akan cenderung mengalami perubahan warna menjadi lebih tua (Jarvis,2007).

            Untuk cita rasa madu ditentukan  oleh zat yang terdapat dalam madu diantaranya glukosa, alkaloid, gula, asam glukonat dan prolin. Rasa dan aroma madu yang paling enak adalah ketika madu baru dipanen dari sarangnya. Sesudah itu, senyawa-senyawa yang terdapat dalam madu sedikit demi sedikit akan menguap. Hal ini disebabkan senyawa yang terdapat dalam madu bersifat volatil (mudah menguap). Karena itu, untuk menjaga kualitas madu cara memanen dan menyimpan madu perlu diperhatikan (Suranto, 2004). 


BAB III
PEMBAHASAN




3.1. Ciri dan Manfaat Lebah Madu (Apis indica)
Lebah madu (Apis indica) memiliki ciri-ciri yaitu, hidup secara berkelompok membentuk suatu koloni dan memiliki susunan masyarakat lebah, dimana lebah pekerja yang bertugas membuat sarang, mengumpulkan madu dan mengurus telur dan larva, membersihkan sarang, menyuapi anakan dan menyuapi ratu, dan umur pekerja hanya berkisar 8 minggu.
Lebah tentara, bertugas menjaga sarang dari gangguan musuh dan umurnya 8 minggu. Lebah pejantan, tugasnya membuahi calon ratu, umur pejantan 8 minggu dan Lebah ratu, menghasilkan telur, memiliki umur yang panjang yaitu 5 tahun, masa produktif selama 2-4 tahun. 
Lebah madu mempunyai manfaat langsung dan tidak langsung bagi manusia. Manfaat langsung antara lain : dapat menghasilkan madu, gana, lilin/malam dan royal jelly serta tepung sari/pollen. Madu bermanfaat bagi manusia untuk daya tahan tubuh dan untuk obat. Satu liter madu sama dengan 50 butir telur. Gana (telur baru yang menetas) mengandung protein yang tinggi dan hormone pertumbuhan. Malam dimanfaatkan orang diolah untuk bahan batik. Tepung sari/pollen dimanfaatkan untuk daya tahan tubuh. Royal jelly merupakan makanan calon ratu dan dibuat jika ada calon ratu. Manfaat bagi manusia lainnya adalah sebagai penambah stamina karena madu memiliki kandungan gizi yang tinggi.
Lebah juga memiliki manfaat tidak langsung, yaitu membantu proses penyerbukaan bunga. Sehingga terjadi fertilisasi, maka akan terbentuk calon individu baru atau biji pada tanaman.

3.2.  Persyaratan Dalam Budidaya Lebah Madu (Apis indica)
  Untuk menentukan keberhasilan dalam upaya pembudidayaan lebah madu ini sangat di tentukan oleh :
1.      Tersedianya sumber makanan (madu/bunga dan pollen) serta adanya tanaman yang berbunga.
2.      Bibit lebah madu yang baik, yaitu memiliki anggota koloni yang banyak, dalam satu stup/sarang minimal 6 sisiran dan penjantan jumlahnya sedikit (< 100 ekor).
3.      Pelaku budidaya/peternak.
4.      Pemberian tambahan makanan pada saat perubahan cuaca.

3.3. Pembuatan Sarang (Stoep) Lebah Madu
            Dalam pembuatan sarang/stup, kayu yang baik digunakan adalah kayu yang sudah kering dan tidak lagi berbau menyengat, hal ini menghindari pindahnya koloni lebah karena tidak betah akibat pengaruh dari kayu tersebut. Intinya dapat menggunakan kayu apa saja yang terpenting tidak berbau menyengat dan mengganggu koloni lebah.  

1.      Konstruksi Stoep
Gambar 1. Bentuk stoep/kandang lebah madu
 
Keterangan :
1.      Tinggi stoep minimal 22-30 cm
2.      Panjang 30-40 cm dan lebar menyesuaikan jumlah frame tempat sisiran






Gambar 2. Stoep tampak dari atas


 
Gambar 3. Bentuk frame/sisiran 



3.4. Cara Pemindahan Lebah Madu Kedalam Stoep

1. Dari glodok/klutuk (batang kelapa yang dibuat rongga/lubang)
·         Pada umumnya lebah menyenangi tempat di bagian atas pada sebuah klutuk dan tempat yang gelap.
·         Dalam satu klutuk bisa lebiha dari 1 sarang atau koloni
·         Untuk memindahkannya, ambil klutuk yang bagian atas (yang ada lebahnya) dengan pelan-pelan dan sebelumnya stoep disiapkan terlebih dahulu ditempatkan pada suatu tempat (hanya bagian kotak utamanya dan tutup atas). Untuk frame diambil 2 atau 3 saja.
·         Setelah stoep siap, klutuk yang telah diambil dibuka dan dibalik pelan-pelan tepat dibawah stoep dan dengan pelan dan halus klutuk diketuk-ketuk untuk mempercepat pemindahan lebah tersebut kedalam stoep.
·         Setelah pindah semua sisiran yang tertinggl diambil beberapa potong dan tali raffia/benang diikat pada 2-3 frame yang telah diambil selanjutnya masukkan kedalam stoep.
·         Supaya betah diberi makanan tambahan berupa cairan gula pasir/gula jawa.

2.  Dari alam / koloni alami (pohon, gua/gorong-gorong, rumah penduduk)
a. Dalam rongga pohon yang menghadap/berada diatas
·         Dalam hal ini apabila pohon tersebut bagian atasnya tidak berlubang. Untuk ini dibuat lubang kecil dengan garis tengah 1 cm yang tepat dibagian bawah sisiran dan perlu diukur terlebih dahulu berapa kedalamannya dan terdapatnya koloni.
·         Setelah terbuat lubang kecil dengan diameter 1 cm maka kita sediakan besek/pithi dan pada bagian atas diolesi cairan gula atau madu, kemudian ditutup tepat menutupi lubang keci tersebut.
·         Agar lebah pindah dari sarangnya kita ganggu sedikit dengan asap obat nyamuk atau asap rokok, maka lebah akan lari mencari tempat yang gelap dan ke atas karena lubang bagian atas ditutup besek/pithi kecil yang gelap.
·         Setelah terkumpul didalam besek, dapat langsung kita pindahkan ke stoep yang tersedia. Caranya hamper sama dengan pemindahan dari klutuk, hanya berbeda pada waktu membalik. Besek dibalik langsung dibawah stoep. Ada bagian yang tertindih stoep. Sisiran yang ada dirongka pohon sebagian diambil dan dikaitkan pada frame yang kosong dari stoep yang baru.
·         Selanjutnya setelah seluruh lebah berpindah semuanya dengan hati-hati stoep dipindahkan ketempat yang telah tersedia.
·         Selama 3 hari diberi makanan tambahan.
b. Dari gua, gorong-gorong dan rumah penduduk.
            Teknik pemindahan ini umumnya sama prinsipnya dengan pemindahan lebah madu dari rongga pohon serta selama 3 hari diberi makanan tambahan.
            Usahakan pemindahan lebah dilaksanakan setelah matahari terbenam, sehingga semua koloni lebah sudah berada dalam sarangnya.

 

Gambar 4. Teknik pemindahan lebah pada rongga pohon 

      Dalam hal teknik budidaya lebah madu, angka produksi madu setiap tahun dan tingkatkonsumsi madu, Indonesia sudah tertinggal dua sampai tiga dekade dari negara lain , meski perlebahan Indonesia terkategori sebagai salah satu komponen terpenting dalam pembangunan sektor pertanian dan kehutanan berkelanjutan. Secara ekologis dan ekonomis, peran lebah madu dalam penyerbukan tanaman cukup menguntungkan bagi kelestarian flora dan peternak lebah.  Seruan mengembangkan budidaya lebah madu di Indonesia pernah digagas mantan Presiden  Soeharto di tahun 1977. Saat itu, Presiden Soeharto menganjurkan agar peternakan lebah  dilakukan dalam skala besar. Dalam Lokakarya Nasional Riset dan Teknologi tahun 1978,  anjuran presiden ditampung jadi bagian garis kebijaksanaan kegiatan riset dan teknologi pada PELITA III yang berkaitan dengan usaha pengadaan “BUTASARMAN” (Kebutuhan dasar manusia).
            Menurut Algamar dkk (1986), Indonesia bisa menjadi  negara industri perlebahan paling unggul di dunia.  Sayangnya, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara baik.  Di sejumlah negara maju, lebah  madu ditempatkan dalam mata rantai paket teknologi modern di bidang pertanian, minimal untuk sektor hortikultural. Ia dilindungi dari bahaya kemusnahan oleh obat-obatan anti hama.
            Untuk itu dengan mengetahui teknik budidaya lebah madu yang baik dan tepat maka ini akan menjadi salah satu langkah perubahan yang bisa dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat yang berada disekitar hutan ataupun wilayah yang berpotensi untuk membudidayakan lebah madu serta masyarakat perlu diberi arahan-arahan yang sifatnya membangun semangat masyarakat tersebut agar mau mengembangkan dan membudidayakan lebah madu dan tentunya hal ini tidak akan berjalan dengan baik tanpa ada sosialisasi dari pemerintah daerah yang terkait.



BAB IV
PENUTUP



4.1. Kesimpulan
Dari penulisan makalah ini maka penulis dapat menarik beberapa kesimpulan antara lain :
1.      Lebah madu jenis (Apis indica) merupakan spesies lebah lokal yang sangat sering kita temui baik di rongga pohon, gua/gorong-gorong atau di rumah penduduk ternyata dapat menjadi suatu peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan dan membudidayakan tentunya dengan teknik yang baik dan tepat sehingga tidak merusak ekosistem lebah madu tersebut
2.      Madu merupakan cairan kental seperti sirup bewarna cokelat kuning muda sampai cokelat merah yang dikumpulkan dalam indung madu oleh lebah  yang memiliki banyak manfaat bagi manusia antara lain seperti,  gana, lilin/malam dan royal jelly serta tepung sari/pollen. Madu bermanfaat bagi manusia untuk daya tahan tubuh dan untuk obat.
3.      Madu tersusun atas molekul gula, mineral dan vitamin yang berguna bagi tubuh antara lain : Molekul gula seperti glukosa dan fruktosa serta sejumlah mineral seperti Magnesium, Kalium, Potasium, Sodium, Klorin, Sulfur, Besi, dan Fosfat. Madu juga mengandung  vitamin B1, B2, C, B6 dan B3 yang komposisinya berubah-ubah sesuai dengan kualitas madu bunga dan serbuk sari yang dikonsumsi lebah. Disamping  itu, didalam madu terdapat pula tembaga, yodium dan seng dalam jumlah yang kecil, juga beberapa jenis hormon.
4.      Dalam upaya membudidayakan lebah madu tingkat keberhasilan budidaya tersebut sangat ditentukan oleh : Tersedianya sumber makanan, bibit lebah madu yang baik, pelaku budidaya/peternak, pemberian tambahan makanan pada saat perubahan cuaca.

4.2. Saran
            Dalam mendukung keberhasilan budidaya lebah madu ini peternak yang menjalankan kegiatan budidaya lebah tersebut hendaknya memiliki dasar ilmu yang sudah terlath agar dalam penerapannya tidak salah dantentunya hal ini kembali lagi pada pemerintah yang sangat dituntut agar dapat mensosialisasikan teknik atau cara budidaya lebah yang benar sehingga hal ini dapat memberikan dampak positif untuk kesejateraan masyarakat khususnya peternak lebah.




DAFTAR PUSTAKA



Anonim. 2013. Budidaya Ternak Lebah Madu : From : http://desakuhijau.org/budidaya-lebah-madu-bagian-3-4/  (Diakses Tanggal 16-10-2013)
Marhiyanto, B., 1999, Peluang Bisnis beternak Lebah, Gitamedia Press, Surabaya.
Tim Dosen. 2011. Tinjauan Pustaka Madu. From : http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/29867/4/Chapter%20II.pdf  (Diakses Tanggal 16-10-2013)
Tim Pelatihan Budidaya Lebah Madu. 2008. Cara Praktis Budidaya Lebah Madu (Apis Indica). Politeknik Purbaya. Tegal